Skip to main content

kepompong yang tak kunjung jadi kupu-kupu

aku mulai berfikir untuk berubah, berubah lagi, berubah untuk kesekian kalinya
Karena ternyata perubahan sebelumnya tidak memberikanku kepuasan
Kepuasan yang ku cari, ku damba selama ini
Tapi perubahan model apa lagi?
Aku bingung, aku merasa sudah melakukan perubahan-perubahan yang banyak sekali
hingga aku tidak sanggup membeda-bedakanya.
Namun aku tidak mencapai sedikitpun dari yang aku harapkan
Apa yang seharusnya aku lakukan? aku tidak mengerti
Apa aku kembali menjadi aku yang dulu saja

Aku yang waktu itu belum berubah
Belum ingin dipuji
Belum tau dinamika hidup
Belum mengerti kalau apa yang aku lakukan selalu berhubungan dengan orang lain
Aku yang tidak mengerti apa-apa
Aku yang waktu itu selalu berucap aku adalah aku
dulu, tidak sekarang
Apakah aku harus kembali ke aku yang dulu itu
Yang denganya aku tidak terbebani
Yang dengannya aku bahagia karena belum merasakan ketidak bahagiaan.
Yang denganya merasa puas dengan segala sesuatunya
Karena waktu itu aku belum pernah kecewa maupun dikecewakan
bisakah?
Bisakah Aku bertindak, bertingkah seolah-olah aku adalah aku yang dulu, yang itu, yang selalu ceria itu?
Haruskah?
Akan bahagiakah aku yang sekarang dengan muka, fikiran, hati, serta tingkah lamaku itu?

Comments

Popular posts from this blog

Sms..

Aku teringat suatu kejadian kecil yang terjadi sudah agak lama ketika teman-temanku menggodai salah satu temanku yang lain menggunakan hp. Klasik memang, karena intinya temanku berpura-pura menjadi seorang cewek yang salah kirim sms. Namun sebagai seorang yang berada dalam posisi netral, karena tidak terlibat sebagai pemain secara langsung, aku menangkap sesuatu yang sepertinya menarik dan menggelitik pikiranku. Ada aturan-aturan yang sangat dipahami salah seorang temanku yang menjadi "pemain" penting dalam kasus tersebut, namanya Wichaksono, pusat oleh-oleh (kebetulan namanya sama dengan nama toko disebelah.red),, hehe. 

Ngopi, Kapasitas dan Loyalitas

Semalam aku bertemu dengan salah satu sahabat dari generasi dua tingkat diatasku, satu tingkatan generasi aku hitung dari 1 periodesasi putaran perkuliyahan normal, empat tahun, jadi setidaknya dia 8 tahun lebih tua dariku. Kita ngopi bareng di sebuah warung kopi yang berada di depan kampus. Kita membicarakan hal-hal sederhana khas bahasan warung kopi. Seperti biasa, aku tidak ingin melewatkan kisah-kisah dari para pendahulu ketika punya kesempatan bertemu.  Demikian juga dengan seniorku yang satu ini, aku bertanya banyak hal seputar perjalananya mengukir sejarahnya di kampus dulu, waktu ia masih aktif berkuliyah dan menjadi mahasiswa yang aktif di luar kampus, sebuah jalan yang sama dengan yang aku pilih sekarang. Seperti yang lain, dia terlihat sangat semangat ketika menceritakan pengalamanya dulu.