Tuesday, January 18, 2011

Teori Empirisme

Lingkungan adalah salah satu hal pokok yang mempengaruhi kulaitas hidup seorang manusia, meski bukan satu-satunya - karena masih ada faktor bawaan atau yang biasa disebut faktor genetik-, namun banyak pendapat yang mengatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan seorang manusia.

Bahkan pada abad pertengahan, seorang filsuf dan pakar pendidikan asal Inggris, John locke (1632-1704) mengeluarkan sebuah teori yang dinamakan dengan teori empirisme, teori ini menyatakan bahwa manusia di lahirkan didunia dalam keadaan seperti kertas putih yang masih kosong (tabularasa,locke), dan yang mengisi kertas itu pada nantinya adalah pengalaman-pengalaman yang dialami seorang anak tersebut hingga anak itu menjadi dewasa. Pengalaman-pengalaman itu bisa didapat secara langsung, atau ditularkan orang lain, misalnya melalui sekolah atau bantuan buku-buku yang dibaca oleh seorang anak tersebut.


Terkesan agak ekstrim memang, karena teori ini mengesampingkan sama sekali sifat-sifat bawaan seorang anak. Namun teori ini, dirasa, cenderung optimistik karena “penganut” teori ini akan melakukan usaha-usaha yang nyata dalam usahanya mempelajari sesuatu. Misalnya, ketika orang tua ingin anaknya menjadi ilmuan, penganut teori ini akan membuat lingkungan yang bernuansa “ilmuan” disekeliling anaknya. Ketika seorang tua ingin menjadikan anaknya seorang pelukis, maka orang tua akan selalu mendekatkan anaknya kepada hal-hal yang “berbau” lukisan misalnya, cat, kanvas, kuas, lukisan-lukisan, para pelukis dll, tanpa melihat kecendrungan bawaan sang anak.

Meski pada nantinya ada pendapat yang lebih demokratis dengan menggabungkan faktor genetik dengan faktor lingkungan (teori konvergensi) namun tidak dapat dipungkiri bahwa teori  empirisme dipandang masih sangat terasa pengaruhnya hingga sekarang.

1 comment: